Jelajahi
AI & Technology

Belajar dari Gempa NTT: Kenapa HP Kita Belum Bisa "Alert" Otomatis Kayak di Jepang?

M Tajul Munandar
31 August 2026 8 Views 4 min read

Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 lalu, bukan cuma meninggalkan kerusakan fisik dan ribuan gempa susulan (tercatat lebih dari 7.900 aftershock hingga akhir Agustus). Peristiwa ini juga memicu diskusi penting soal kesiapan teknologi peringatan dini bencana di Indonesia — khususnya soal kenapa notifikasi gempa di ponsel kita belum semulus dan secepat yang ada di Jepang.

Kritik yang Muncul Pascagempa

Anggota parlemen, Musa Rajekshah (akrab disapa Ijeck), menyoroti bahwa meski Indonesia sudah punya alat pendeteksi gempa yang memadai, penyebaran informasinya ke masyarakat belum secepat dan seotomatis sistem yang dipakai Jepang. Ia mencontohkan bagaimana di Jepang, begitu gempa terdeteksi, ponsel warga langsung menerima notifikasi otomatis berisi lokasi dan kekuatan gempa — sesuatu yang menurutnya perlu dikaji lebih serius untuk diterapkan di Indonesia lewat integrasi antara BMKG dan penyedia layanan telekomunikasi.

Sebenarnya, Seberapa Cepat Sistem BMKG Saat Ini?

Menariknya, dari sisi kecepatan deteksi dan analisis, BMKG sebenarnya sudah cukup gesit. Untuk gempa M7,7 Flores, Peringatan Dini Tsunami pertama diterbitkan hanya 2 menit 16 detik setelah gempa terjadi, dan pembaruan kedua menyusul 11 menit kemudian. Ini menunjukkan sisi deteksi dan analisis BMKG sudah bekerja sangat cepat.

Masalah utamanya ada di tahap berikutnya: penyebaran informasi ke masyarakat luas secara otomatis dan langsung ke perangkat pribadi. Saat ini, kanal resmi penyebaran informasi BMKG masih mengandalkan media sosial (@infoBMKG), aplikasi InfoBMKG dan WRS-BMKG yang harus diunduh manual, situs web, serta kanal Telegram — semuanya membutuhkan langkah aktif dari pengguna (membuka aplikasi, mengikuti akun tertentu), bukan notifikasi otomatis yang muncul begitu saja di layar HP siapa pun yang berada di zona terdampak, seperti yang terjadi di Jepang.

Bagaimana Cara Kerja Sistem di Jepang?

Jepang menggunakan teknologi bernama Cell Broadcast — mekanisme yang memungkinkan operator seluler mengirim notifikasi ke semua perangkat ponsel yang berada di area geografis tertentu secara bersamaan, tanpa perlu tahu nomor telepon spesifik penerimanya, dan tanpa bergantung pada kepadatan trafik data seperti SMS atau notifikasi aplikasi biasa. Begitu sensor mendeteksi gempa, sistem otomatis mengidentifikasi wilayah yang berpotensi terdampak dan langsung mengirim notifikasi ke seluruh perangkat di zona tersebut dalam hitungan detik.

Indonesia Sebenarnya Sudah Mulai Membangun Ini

Yang menarik, Indonesia sebenarnya bukan tidak bergerak sama sekali ke arah ini. Sejak beberapa tahun terakhir, Kementerian Komunikasi dan Digital (dulu Kominfo) telah mengembangkan Sistem Nasional Peringatan Dini Kebencanaan (SNPDK), mencakup dua komponen utama:

Pemerintah juga sempat menyatakan rencana beralih dari metode SMS blast (yang punya kelemahan signifikan: pesan bisa tertunda berjam-jam bahkan sehari kalau jaringan sedang padat) ke Cellular Broadcast yang jauh lebih instan — sejalan dengan pembangunan jaringan komunikasi bencana terintegrasi bernama Public Protection and Disaster Relief (PPDR).

Kenapa Implementasinya Belum Semulus Jepang?

Berdasarkan berbagai perkembangan yang ada, tantangan utama migrasi penuh ke sistem cell broadcast semacam ini meliputi:

  1. Kompleksitas integrasi lintas operator seluler — semua operator telekomunikasi di Indonesia perlu mengadopsi standar teknis yang sama agar notifikasi bisa tersebar merata ke seluruh pengguna, apa pun provider yang mereka pakai.
  2. Cakupan infrastruktur EWS TV Digital yang belum menyeluruh — manfaat sistem peringatan lewat TV digital bergantung pada seberapa luas adopsi TV digital di suatu wilayah, sementara migrasi penuh dari siaran analog ke digital di Indonesia sendiri masih berproses bertahap di berbagai daerah.
  3. Koordinasi lintas lembaga yang kompleks — sistem ini melibatkan banyak pemangku kepentingan sekaligus (BMKG, BNPB, PVMBG, BPBD daerah, operator seluler, penyiar TV), yang masing-masing perlu selaras dari sisi teknis maupun regulasi.

Kenapa Ini Penting Dipahami Pelaku Bisnis Teknologi dan Telekomunikasi?

  1. Ada peluang kolaborasi nyata antara sektor swasta dan pemerintah dalam mempercepat pembangunan infrastruktur peringatan dini bencana — mengingat Indonesia adalah salah satu negara paling rawan bencana di dunia, kebutuhan ini bersifat jangka panjang dan berkelanjutan, bukan proyek sesaat.
  2. Standar teknis cell broadcast dan integrasi sistem lintas platform jadi area yang relevan dipelajari perusahaan teknologi dan telekomunikasi lokal, mengingat kebutuhan serupa kemungkinan akan terus mendesak seiring tingginya frekuensi bencana geologis di Indonesia.
  3. Edukasi publik soal kanal informasi resmi bencana (aplikasi InfoBMKG, akun resmi terverifikasi) tetap penting disebarluaskan sembari menunggu sistem otomatis yang lebih matang benar-benar terwujud sepenuhnya.

Gempa NTT pada akhirnya menjadi pengingat penting: Indonesia sebenarnya tidak kekurangan teknologi maupun rencana untuk membangun sistem peringatan dini yang lebih baik — pekerjaan rumah sesungguhnya ada pada mempercepat implementasi dan integrasi sistem yang sudah mulai dibangun, supaya benar-benar bisa diandalkan saat menghadapi bencana besar berikutnya.