Jelajahi
AI & Technology

Butuh 5 Tahun Dibangun, Kapasitas Kabel Laut Ini Habis Kurang dari Setahun — Gara-gara AI

M Tajul Munandar
27 August 2026 4 Views 4 min read

Di sela Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 yang berlangsung di Nusa Dua, Telkom Indonesia mengungkap fakta yang menggambarkan betapa cepatnya ledakan kebutuhan AI mengubah lanskap infrastruktur digital global. Kabel bawah laut Bifrost, yang menghubungkan Singapura dan Amerika Serikat serta memakan waktu sekitar lima tahun untuk dibangun, ternyata kehabisan kapasitas dalam waktu kurang dari satu tahun sejak mulai beroperasi.

Penjelasan dari Telkom Indonesia

Director of Wholesale & International Service Telkom Indonesia, Budi Satria Dharma Purba, menjelaskan bahwa cepatnya kapasitas kabel ini terisi penuh dipicu langsung oleh ledakan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan yang membutuhkan bandwidth dalam skala sangat besar. Ia menegaskan kesenjangan yang kini terjadi: kecepatan pertumbuhan permintaan konektivitas jauh melampaui kecepatan industri membangun infrastruktur baru untuk memenuhinya.

Menurutnya, pertanyaan besar yang kini dihadapi seluruh industri adalah bagaimana memangkas waktu pembangunan infrastruktur kabel laut, supaya bisa mengejar laju pertumbuhan permintaan yang menurutnya melonjak hingga puluhan kali lipat dalam kurun waktu singkat.

Kenapa AI Membutuhkan Bandwidth Sebesar Ini?

Ledakan kebutuhan bandwidth ini erat kaitannya dengan cara kerja infrastruktur AI modern. Melatih dan menjalankan model AI skala besar membutuhkan koordinasi antar pusat data (data center) yang tersebar di berbagai lokasi, bahkan lintas benua — mentransfer data dalam volume masif secara terus-menerus antar fasilitas tersebut. Semakin banyak perusahaan membangun dan mengoperasikan pusat data AI, semakin besar pula kebutuhan jalur konektivitas berkapasitas tinggi yang menghubungkan mereka satu sama lain, termasuk lewat jalur kabel bawah laut lintas negara.

Bukan Cuma Bifrost — Ini Tren Global

Fenomena ini bukan kasus terisolasi. Sejumlah raksasa teknologi global kini aktif membangun infrastruktur kabel bawah laut mereka sendiri untuk mengantisipasi kebutuhan ini:

Tantangan Tambahan: Geopolitik dan Rantai Pasok

Di luar soal kecepatan konstruksi, Budi juga menyoroti tantangan lain yang memperlambat penambahan kapasitas baru: ketegangan geopolitik di sejumlah titik strategis jalur kabel laut dunia (termasuk kawasan Timur Tengah), serta kendala rantai pasok material dan peralatan konstruksi kabel bawah laut yang juga ikut tertekan seiring tingginya permintaan global secara bersamaan.

Bagaimana Posisi Indonesia?

Menariknya, isu ini juga langsung relevan bagi Indonesia. Menurut Budi, Jakarta dan Batam disebut sebagai lokasi dengan pertumbuhan pusat data AI paling kuat di dalam negeri saat ini, dengan konektivitas kabel bawah laut sebagai faktor kunci pendukung pertumbuhan ekosistem tersebut. Artinya, kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan kapasitas konektivitas global ini berpotensi ikut memengaruhi kecepatan pertumbuhan industri pusat data dan AI di Indonesia ke depan.

Kenapa Ini Penting Dipahami Pelaku Bisnis Digital?

  1. Infrastruktur internet global sedang mengalami tekanan nyata akibat boom AI — melengkapi cerita serupa yang sebelumnya terjadi pada kelangkaan chip memori untuk perangkat konsumen. Kali ini dampaknya menyentuh lapisan yang lebih mendasar: jalur konektivitas antarbenua itu sendiri.
  2. Potensi kenaikan biaya bandwidth internasional ke depan patut diantisipasi pelaku bisnis yang bergantung pada layanan cloud atau transfer data lintas negara dalam skala besar, mengingat kesenjangan supply-demand semacam ini biasanya berdampak pada harga jasa konektivitas.
  3. Peluang bagi Indonesia memperkuat posisi sebagai hub data center regional, asalkan pembangunan infrastruktur pendukung (termasuk konektivitas kabel laut) bisa dipercepat sejalan dengan pertumbuhan permintaan yang ada.

Kisah kabel Bifrost ini menjadi ilustrasi nyata lain dari pola yang sudah mulai terlihat berulang sepanjang 2026: ledakan investasi dan kebutuhan infrastruktur AI bergerak jauh lebih cepat dibanding kemampuan industri secara fisik membangun kapasitas untuk mengimbanginya — mulai dari chip memori, hingga kini jalur kabel bawah laut yang menopang seluruh konektivitas internet global.